Tampaknya begitu banyak masalah yang sedang melanda bangsa ini, setidaknya hal inilah yang kami lihat. Mulai dari demoralisasi, tingginya angka kejahatan, angka bunuh diri, melambungnya harga-harga kebutuhan pokok yang (katanya) dipicu oleh naiknya harga BBM, penderita HIV/AIDS yang semakin meningkat, pendidikan yang tak kunjung berkualitas, sistem perpolitikan yang selalu saja menghalalkan segala cara (mungkin karena memang definisi umumnya begiitu), dan masih banyak lagi permasalahan bangsa dan negara ini.
Padahal kalau kita kaji secara agama, katanya sih Allah menciptakan masalah sekaligus dengan solusinya, namun kenapa ya kok tak kunjung ada solusi untuk masalah yang melanda bangsa dan negara kita ini? Apakah karena kita belum secara maksimal mencarinya atau karena kita memang tak pernah berusaha mencari solusinya, atau mungkin bangsa dan negara kita ini dikutuk olehNya? Wallahu`alam bish shawab...
Sebagian dari kita mungkin menjawabnya bahwa akar masalah semua ini adalah dekadensi moral. Sebagian lagi mungkin menjawab bahwa kondisi perekonomian yang buruklah akar masalahnya. Sementara yang lain akan menjawab bahwa ummat ini bodoh dan terus dibodohi. Atau mungkin juga ada yang menjawab tidak tahu, sekedar mencari selamat.
Hmm..banyaknya jawaban di atas menunjukkan bahwa kita, sekarang ini, dihadapkan pada peta persoalan ummat yang begitu kompleks laiknya lingkaran setan, tak berujung dan tak berpangkal. Padahal secara definitif, pernyataan akar masalah menghendaki adanya karakter jawaban yang bersifat tunggal dan menjadi sebab pertama/utama dari segala persoalan yang ada.
Saudaraku, bila persoalan-persoalan yang kita hadapi sudah bersifat sperti lingkaran setan, maka yakinlah bahwa persoalan yang kita hadapi bukanlah persoalan yang sederhana. Persoalan ini tidak lagi parsial, melainkan sistemik. Disebut sistemik karena persoalan ini kompleks, sudah menyentuh seluruh aspek persoalan mulai dari inputnya, prosesnya, hingga outputnya. Inputnya bermasalah, prosesnya bermasalah, dan outputnya pun bermasalah.
Jika suatu persoalan sudah sedemikian rupa, maka yakinlah juga bahwa persoalan yang tengah kita hadapi telah berubah menjadi krisis. Bukan hanya krisis satu atau dimensi (seperti krisis ekonomi pada tahun 1998 atau krisis energi saat ini yang dikatakan oleh pemerintah), tetapi sudah menjelma menjadi krisis multidimensi. Krisis yang meliputi tatanan ekonomi, perilaku politik, budaya, kehidupan sosial, sikap beragama, dan pendidikan kita.
Ketidakpedulian kita, kemasabodohan kita, bahkan keputusasaan kita selama ini telah mengubah penyikapan kita terhadap krisis multidimensi ini menjadi trapped in comfort zone syndrom yang menghinggapi dan menjejali kepala kita. Maka jadilah sidrom 6-tik merangsek segala sendi kehidupan kita: tatanan ekonominya kapitalistik, perilaku politiknya opportunistik, budayanya hedonistik, kehidupan sosialnya individualistik, sikap beragamanya sinkretistik, dan sistem pendidikannya materialistik.
Kini jelas sudah, ternyata kita harus berhadapan dengan kenyataan bahwa ummat kini sedang sakit, akibat begitu banya persoalan yang menggerogoti tubuhnya. Untuk dapat menyembuhkannya, kita harus dapat menemukan inti (akar) penyakitnya. Dan untuk menemukan akar masalah ini, kita harus berani memutus lingkaran setan pada titik yang tepat. Kalau kata Hizbut Tahrir sih kita harus kembali menempatkan syari’ah sebagai way of life kita.
Dalam kalimat lain, Muhammad Assad Leopold Weiss, seorang mualaf dari Jerman menyatakan dengan sangat jitu apa sesungguhnya yang membuat ummat Islam sakit dan terpuruk seperti sekarang ini dan apa sesungguhnya yang membuat orang non-muslim Barat maju secara materi seperti sekarang ini. Menurutnya, keduanya terjadi karena sebab yang sama, yaitu karena sama-sama meninggalkan agama alias sekuler. Lalu, menjadikannya sebagai way of life (sekulerisme).
Jadi, way of life sekulerisme inilah yang membawa darah kotor kapitalistik pada tatanan ekonominya, racun opportunistik pada perilaku politiknya, obat bius hedonistik pada budayanya, kuman individualistik pada kehidupan sosialnya, borok sinkretistik pada sikap beragamanya, dan hawa materialistik pada sistem pendidikannya. Na’udzubillahi min dzalik...
Wallahu’alam bish shawab.
Wabillahi taufiq wal hidayah.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Read more...
Setiap manusia pasti mempunyai pikiran yang darinya dia akan menghasilkan ide-ide brilian yang dapat mengubah dunia....
Segenap Keluarga Besar HMI Komisariat STMA Trisakti mengucapkan :
Selamat ulang tahun yang ke 62 untuk HMI..
Semoga dapat segera menemukan kembali jati dirinya. Amin.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Rabu, Juni 11, 2008
“6-TIK” SYNDROM
Kamis, Mei 22, 2008
Motivasi: Hancurkan "Self Syndrom"
Sebuah Refleksi Perkaderan...
20 Mei 2008 adalah hari yang sangat monumental bagi bangsa dan negara Indonesia, karena pada hari dan tanggal itulah tepatnya diperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional. Memang tak terasa sudah 100 tahun bangsa dan negara Indonesia ini melalui tahun demi tahun “bangkitnya” negara ini dari keterpurukan. Walaupun memang tetap belum terasa ada suatu “kebangkitan” yang signifikan, mungkin yang paling terasa yaitu sewaktu bergulirnya Reformasi di tahun 1998, namun tetap saja bangsa dan negara Indonesia masih berada dalam “keterpurukan” dan kolonialisme.
Berikut ini ada sebuah cerita yang sangat menarik dan inspiratif dari Panglima Islam, Thariq bin Ziyad, yang mungkin bisa membantu masing-masing dari kita untuk lebih memaknai peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional dan agar tidak hanya berkata, “Indonesia, Bisa!!!”, tetapi langsung “BANGKIT” dengan makna dan maksud yang sesungguhnya...
....Ombak besar bergulung seirama dengan hembusan angin laut menyergap secara bergantian semenanjung pantai tenggara Spanyol. Deburnya terdengar begitu keras saat menghantam karang-karang terjal dan mencipratkan buih ke udara. Tak terdengar suara lain, kecuali suara alam pantai dengan berbagai harmoninya. Kesunyian seolah menelan pantai itu selama bertahun-tahun. Tetapi, tidak di suatu hari pada tahun 711 M. Kesunyian itu pecah oleh berderaknya serombongan armada tempur yang telah melintasi 13 mil laut untuk menyeberangi Selat Andalusia. Armada berkekuatan 700 prajurit itu merapat. Sebuah komando menyulut, semangat pun keluar dari sang Panglima.
“Wahai saudara-saudaraku, lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, kemanakah kalian akan lari? Demi Allah, yang kalian miliki hanyalah kejujuran dan kesabaran. Ketahuilah bahwa di pulau ini kalian lebih terlantar daripada anak yatim yang ada di lingkungan orang-orang hina. Musuh kalian telah menyambut dengan pasukan dan senjata mereka. Kekuatan mereka sangat besar, sementara kalian tanpa perlindungan selain pedang-pedang kalian, tanpa kekuatan selain barang-barang yang kalian rampas dari tangan musuh kalian. Seandainya pada hari ini kalian masih tetap sengsara seperti ini, tanpa adanya perubahan yang berarti, niscaya nama baik kalian akan hilang, rasa gentar yang ada pada hati musuhakan berganti menjadi berani kepada kalian. Oleh karena itu, pertahankanlah jiwa kalian!”
Tan[a keraguan sedikit pun, panglima itu memerintahkan pasukannya untuk membakar kapal-kapal yang telah membawa mereka. Banyak orang mungkin bertanya, “Bukankah kapal-kapal itu adalah aset? Bukankah aset perang justru seharusnya dijaga?” Tidak! Itulah prinsip sang Panglima. Secara zhahir, memang kapal-kapal itu habis terbakar, namun pada hakikatnya perintah ini juga telah membakar habis pilihan untuk menjadi pecundang dan pengecut serta menyisakan dua pilihan, yang keduanya mulia. Menangkan pertempuran atau mati syahid. Di sinilah terbentuk kesamaan visi dan misi antara pemimpin dan bawahan dalam membangun tim yang kompak dan padu. Langkah ini telah membuahkan kemenangan. Sebuah kemenangan yang mengantarkan umat Islam memasuki babak baru, dakwah di bumi Andalusia.
Panglima itu adalah Thariq bin Ziyad, seorang pahlawan muslim pembebas Andalusia yang namanya diabadikan untuk menyebut bukit karang setinggi 450 meter di semenanjung pantai tenggara Spanyol. Jabal Thariq, begitulah orang Arab menamai bukit itu. Lidah Eropa menyebutnya Gibraltar.
Kemenangan yang diraihnya termasuk historical moment. Betapa tidak, 7.000 prajurit muslim harus berhadapan dengan jumlah personel musuh yang jauh lebih besar, 25.000 prajurit Visigoth di bawah perintah Raja Roderick. Sebuah kekuatan perang yang sangat tidak seimbang, mengingatkan kita pada fenomena Perang Badar di mana pasukan musuh berjumlah lebih dari tiga kali lipat pasukan muslim.
Pasukan muslim dihadapkan dua pilihan mulia dalam berjihad, yang keduanya berbalas pahala besar, yakni menang atau mati syahid. Ketidakberimbangan kekuatan pasukan saat itu berpotensi untuk membuat kecut nyali sebagian pasukan yang dapat meracuni kekuatan tim. Ciutnya nyali dan lemahnya semangat dapat membuat mereka berpikir untuk kembali ke pantai, mengayuh kapal meninggalkan lahan ibadah. Ini harus dicegah! Hangusnya kapal menjadi puing-puing yang teronggok membuat kemungkinan ini ikut hangus musnah. Seperti yang dikatakannya, “Lautan ada di belakang kalian, musuh ada di depan kalian, kemanakah kalian akan lari?” Maju menerobos musuh, berisiko terbunuh. Mundur ke pantai, menerobos ombak laut berisiko sama. Namun, pilihan pertama tentu jauh lebih ksatria dan mendatangkan pahala. Ada surga di sana. Jika sama risikonya, tak ada alasan sedikit pun untuk memilih yang kedua. Api ruh jihad secara cepat merembet dan mengobarkan semangat 7.000 prajurit muslim. Dalam gemuruh takbir mereka maju menegakkan kalimat tahlil di bumi Andalusia.
Sejarah mencatat, mereka berhasil menundukkan Spanyol dan terus bergerak maju sampai ke perbatasan Perancis di Tours. Inilah jalur masuk Islam di Eropa Barat....
Saudaraku, tentu ada banyak hikmah yang bisa dipetik dari kisah inspiratif ini. Terkait dengan kebangkitan diri–belajar dari pengalaman Thariq–memang tak ada jalan lain untuk dapat membangkitkan diri, kecuali mengikuti jejak Panglima Islam, Thariq bin Ziyad, ketika membakar seluruh kapal untuk memotivasi 7.000 prajuritnya guna membebaskan bumi Andalusia pada tahun 711 M, sebagaimana dikisahkan di atas.
Ciptakanlah “kondisi yang memotivasi untuk bangkit” yakni dengan suatu komando atau kebijakan strategis menghilangkan pilihan mundur dengan mengorbankan “aset”. Satukanlah visi dan cara pandang kita semua. Maksudnya, mulai saat ini visi dan cara pandang kita adalah mewujudkan diri yang dapat berbakti demi kebangkitan bangsa, negara, dan agama.
Wallahu’alam bish shawab.
Wabillahi tafiq wal hidayah.
Read more...
Rabu, Mei 21, 2008
Sinergisitas: Kongres Anggota Tubuh
Kisah bermula di sebuah Kongres Anggota Tubuh Manusia. Pak Jantung memimpin sesi sidang “Pemberian Penghargaan Pada Anggota Tubuh Manusia Terpenting Tahun Ini”. Dalam pidato pengantarnya, Pak Jantung berkata, “Saudara-saudaraku sesama anggota tubuh, sebagaimana kita tahu tuan kita sangat menginginkan kinerja kesehatannya meningkat tahun ini. Peningkatan ini hanya mungkin kalau kita semua memperbaiki kinerja masing-masing. Nah, untuk memicu dan memacu peningkatan kinerja itu, tuan kita berkenan memberikan penghargaan kepada anggota tubuh terpenting. Untuk itu, kita harus menentukan siapa diantara kita yang layak untuk mendapatkannya.
Sidang seketika hening. Semua bingung karena sulit untuk menentukannya. Mas Mata merasa dirinya paling penting, karena tanpa dirinya tuannya pasti akan kelimpungan ketikan berjalan. Jeng Bibir juga merasakan hal yang sama karena dia adalah juru bicara tuannya. “Coba kalau saya mogok kerja, pasti tuan dikira bisu!” Pak Jantung tak mau kalah, “Kalau saya mau mogok kerja 1 detik saja, dunia pasti kiamat Bung!” Akhirnya, ruangan Kongres pun gaduh. Gaduh sana dan gaduh sini.
Sesaat kemudian, Pak Jantung mengetuk meja sidang, “Diam semua. Setelah saya pikirkan masak-masak, sulit bagi kita untuk mencari siapa yang paling penting. Bagaimana kalau sebaiknya, kita cari saja siapa yang paling tidak penting.” Pak Jantung berbicara semangat sekali sambil melirik salah satu peserta yang pendiam, yakni Bang Lubang Kentut. Upsss. Tak dinyana, semua koor, “Setujuuuu!”
Akhirnya secara aklamasi, pilihan jatuh bulat-bulat kepada–siapa lagi kalau bukan–Bang Lubang Kentut! Serta merta Bang Lubang Kentut protes mengajukan PK, Peninjauan Kembali. Tapi sia-sia saja, protes Bang Lubang Kentut tenggelam dalam keriuhan sidang. Dan, tak lama kemudian sidang pun usai. Bang Lubang Kentut terdiam, “Apa yang aku lakukan untuk tuanku, ternyata tak berharga sama sekali,” batinnya. “Baiklah. Akan aku tunjukkan bahwa apa yang mereka putuskan itu salah besar!”
Maka, mulailah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sang tuan pun demam. Kadang panas kadang dingin. Satu per satu anggota tubuh pun unjuk sakit. Pak Jantung mengeluh, detak dirinya lain dari biasanya. Yang biasanya berirama pop, kok mendadak berubah ada cengkok dangdutnya. Jeng Bibir meradang, setiap kali bertugas pasti orang di sekitar tuannya ramai-ramai menutup hidungnya masing-masing. “Ada bau tak sedap,” kata mereka. Mas Mata juga begitu. “Aku sering kelilipan dan berkunang-kunang, padahal tak ada kunang-kunang yang hinggap pada diriku. Kenapa ya?” Lalu, semua berkumpul. “Ya...ya...ya...kami juga!” Sungguh tidak seperti biasanya.
Mereka pun menunjuk tim investigasi untuk menuntaskan kasus ini. Setelah mendapat petunjuk dari sejumlah saksi, tim pun menangkap Bang Lubang Kentut sebagai satu-satunya tersangka. Akhirnya, di hadapan Majelis Hakim Bang Lubang Kentut pun mengakui bahwa ini semua terjadi karena dirinya melakukan mogok kerja. Jika tuannya ingin buang angin, ia tak merespons. Kalau tuannya ingin BAB, ia cuek saja. Pokoknya ibarat keran air, dirinya mengunci rapat-rapat keran itu. Mbah Kumis, Ketua Majelis Hakim yang berwibawa pun bertanya, “Jujurlah padaku. Apa sebenarnya yang kamu inginkan?”
Bang Lubang Kentut terbata-bata berkata, “Saya ingin menyadarkan semua pihak, meskipun posisi saya dibawah, tak elok dipandang, bukan berarti saya lantas tidak penting. Semua anggota tubuh sama pentingnya. Sudah sepantasnya kita saling sinergi sesuai dengan core-nya masing-masing.”
Hikmah berharga untuk kita adalah betapa pentingnya sebuah sinergisitas peran. Sekecil apa pun peran yang dimainkan tetaplah ia punya arti. Ibarat sekrup kecil dalam sebuah mesin besar. Kecil namun tetap penting. Tetaplah berperan dalam perkaderan!!!
*Cerita ini diambil dari buku “Be The Best, Not ‘Be asa’” karangan M. Karebet Widjajakusuma hal.119.
Read more...